Search Surah Baqarah Grammatical Analysis. Demikianlah pembahasan mengenai uraian surah al baqarah ayat 148 teks arab dan latin serta lengkap dengan artinya perkata dalam bahasa Indonesia dan Inggris, juga isi kandungan pada ayat tersebut Uploaded by SuratAl-maidah ayat 2-3 Dan artinya dengan latin nya dan surat al-Hujurat ayat 13 dengan. Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang Ayatini terdapat dalam surah Al Israa. Surah Al-Isra’ (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, “Perjalanan Malam”) adalah surah ke-17 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini dinamai dengan Al Ditulispada: Agustus 22, 2021. Tajwid surat Al Hujurat ayat 10 yaitu: Ghunnah, Alif lam qomariyah, Ikhfa, Huruf lin, Tafkhim, Idzhar syafawi, Mad 'aridl lissukun dan sebagainya. AlHujurât : ayat 12-13 Test Pemahaman Kata. Test Hafalan Quran. test arti perkata. test arti vs polakata. test mengenal polakata. test perkata vs arti. test Awal Ayat. test Awal dan Akhir Ayat. test Tingkat Lanjut. SurahHujurat Ayat 10 with Urdu Translation. (ترجمہ: کنزالایمان) مومن تو آپس میں بھائی بھائی ہیں۔. تو اپنے دو بھائیوں میں صلح کرادیا کرو۔. اور خدا سے ڈرتے رہو تاکہ تم پر رحمت کی جائے ﴿ ۱۰ ﴾. . Surat Al Hujurat ayat 12 adalah ayat yang mengajarkan untuk berbaik sangka dan etika persaudaraan. Berikut ini terjemah per kata dan isi kandungan Surat Al Hujurat Ayat 12. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tanibuu katsiirom minadh dhonni inna ba’dlodh dhonni itsm. Walaa tajassasuu walaa yaghtab badlukum ba’dloo. Ayuhibbu ahadukum ay ya’kula lahma akhiihi maitan fakarihtumuuhu wattaqullooha innallooha tawwaabur rohiim Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka kecurigaan, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. QS. Al Hujurat 12 Terjemah Per Kata Berikut ini terjemah per kata Surat Al Hujurat ayat 12. Agar lebih mudah dibaca, tiap penggalan ayat akan diletakkan pada tabel terjemah per kata tersendiri. wahaiيَا أَيُّهَاorang-orang yangالَّذِينَberimanآمَنُواjauhilahاجْتَنِبُواkebanyakanكَثِيرًاdariمِنَprasangkaالظَّنِّsesungguhnyaإِنَّsebagianبَعْضَprasangkaالظَّنِّdosaإِثْمٌ danوَjanganلَاkalian memata-matai, mencari kesalahanتَجَسَّسُواdanوَjanganلَاkalian mengumpatيَغْتَبْsebagian kalianبَعْضُكُمْsebagianبَعْضًا apakah menyukaiأَيُحِبُّsalah seorang di antara kalianأَحَدُكُمْbahwaأَنْmemakanيَأْكُلَdagingلَحْمَsaudaranyaأَخِيهِbangkai, matiمَيْتًاmaka kalian benci/jijik padanyaفَكَرِهْتُمُوهُ dan bertaqwalahوَاتَّقُواpada AllahاللَّهَsesungguhnyaإِنَّAllahاللَّهَMaha Penerima taubatتَوَّابٌMaha Penyayangرَحِيمٌ Baca juga Surat Al Falaq Terjemah Per Kata Isi Kandungan Surat Al Hujurat Ayat 12 Berikut ini isi kandungan surat Al Falaq yang kami sarikan dari sejumlah tafsir. Yakni Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir, Fi Zilalil Quran, dan Tafsir Al Azhar. Isi kandungan ini juga telah dimuat di WebMuslimah dalam judul Isi Kandungan Surat Al Hujurat Ayat 12. 1. Surat Al Hujurat ayat 12 memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjauhi buruk sangka. Sebaliknya, memerintahkan berbaik sangka kepada sesama mukmin. 2. Surat Al Hujurat ayat 12 melarang memata-matai, mengintai dan mencari-cari keburukan orang lain. 3. Ayat ini juga melarang ghibah. Bahkan menjelaskan ghibah ibarat memakan bangkai saudaranya sendiri yang pasti setiap orang jijik padanya. 4. Buruk sangka, memata-matai dan mencari-cari keburukan orang lain serta ghibah adalah haram serta menjadi perusak persatuan. Padahal orang-orang beriman itu bersaudara dan harus menjaga persatuan sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al Hujurat ayat 10. 5. Ayat ini memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa. Jika orang beriman masih melakukan perbuatan buruk tersebut, hendaklah bertaubat dan bertaqwa. Dengan taqwa, terjagalah diri dari sifat-sifat buruk tersebut dan dengan taqwa Allah akan menerima taubatnya. 6. Allah selalu membuka pintu taubat dan pintu kasih sayang bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan bertaqwa. Demikian terjemah per kata dan isi kandungan Surat Al Hujurat Ayat 12. Tafsir lebih lengkap bisa dibaca di artikel Surat Al Hujurat Ayat 12. [Muchlisin BK/Tarbiyah] 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID 5_QHIzU7Q1kBxyZcox8ThjtgCeelJ706PYEjay4ehi4C_FNfb9pNxA== Al-Hujurat 11 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ الحجرٰت ١١ yāayyuhāيَٰٓأَيُّهَاO you who believe!wahaialladhīnaٱلَّذِينَO you who believe!orang-orang yangāmanūءَامَنُوا۟O you who believe!berimanlāلَاLet notjanganyaskharيَسْخَرْridiculememperolok-olokqawmunقَوْمٌa peoplesuatu kamuminمِّن[of]dariqawminقَوْمٍanother peoplekaumʿasāعَسَىٰٓperhapsboleh jadianأَنthatbahwayakūnūيَكُونُوا۟they may beadalah merekakhayranخَيْرًاbetterlebih baikmin'humمِّنْهُمْthan themdari pada merekawalāوَلَاand let notdan jangannisāonنِسَآءٌwomenwanitaminمِّن[of]darinisāinنِّسَآءٍother womenwanitaʿasāعَسَىٰٓperhapsboleh jadianأَنthatbahwayakunnaيَكُنَّthey may bemereka adalahkhayranخَيْرًاbetterlebih baikmin'hunnaمِّنْهُنَّۖthan themdari merekawalāوَلَاAnd do notdan jangantalmizūتَلْمِزُوٓا۟insultkamu mencelaanfusakumأَنفُسَكُمْyourselvesdiri kalian sendiriwalāوَلَاand do notdan jangantanābazūتَنَابَزُوا۟call each otherkamu panggil memanggilbil-alqābiبِٱلْأَلْقَٰبِۖby nicknamesdengan julukanbi'saبِئْسَWretched isseburuk-burukl-s'muٱلِٱسْمُthe namenamal-fusūquٱلْفُسُوقُof disobediencefasikbaʿdaبَعْدَaftersesudahl-īmāniٱلْإِيمَٰنِۚthe faithkeimananwamanوَمَنAnd whoeverdan barang siapalamلَّمْdoes nottidakyatubيَتُبْrepentberbuatfa-ulāikaفَأُو۟لَٰٓئِكَthen thosemaka mereka ituhumuهُمُtheymerekal-ẓālimūnaٱلظَّٰلِمُونَare the wrongdoersorang-orang yang zalim Transliterasi Latin Yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaskhar qaumum ming qaumin 'asā ay yakụnụ khairam min-hum wa lā nisā`um min nisā`in 'asā ay yakunna khairam min-hunn, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazụ bil-alqāb, bi`sa lismul-fusụqu ba'dal-īmān, wa mal lam yatub fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn QS. 4911 Arti / Terjemahan Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. QS. Al-Hujurat ayat 11 Tafsir Ringkas KemenagKementrian Agama RI Setelah Allah menerangkan bahwa orang-orang mukmin adalah bersaudara, ayat ini menjelaskan tuntunan agar persaudaraan itu tetap terjaga. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum, yakni kelompok pria, mengolok-olok kaum, yakni kelompok pria yang lain karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olokkan perempuan lain karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dengan ucapan, perbuatan atau isyarat, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang dinilai buruk buruk oleh orang yang kamu panggil itu sehingga menyakiti hatinya. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk fasik setelah iman. Yakni seburuh-buruk panggilan kepada orang-orang mukmin adalah bila mereka disebut orang-orang fasik sesudah mereka dahulu disebut sebagai golongan yang yang beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, setelah melakukan kefasikan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim kepada diri sendiri dan karena perbuatannya itu maka Allah menimpakan hukuman atasnya. Tafsir Lengkap KemenagKementrian Agama RI Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kaum Mukminin supaya jangan ada suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olokkan itu pada sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang mengolok-olokkan. Demikian pula di kalangan wanita, jangan ada segolongan wanita yang mengolok-olokkan wanita yang lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olokkan itu pada sisi Allah lebih baik dan lebih terhormat dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan. Allah melarang kaum mukminin mencela kaum mereka sendiri karena kaum Mukminin semuanya harus dipandang satu tubuh yang diikat dengan kesatuan dan persatuan. Allah melarang pula memanggil dengan panggilan yang buruk seperti panggilan kepada seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata hai fasik, hai kafir, dan sebagainya. Tersebut dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu'man bin Basyir Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih mengasihi dan sayang-menyayangi antara mereka seperti tubuh yang satu; bila salah satu anggota badannya sakit demam, maka badan yang lain merasa demam dan terganggu pula. Riwayat Muslim dan Ahmad dari an-Nu'man bin Basyir Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupamu dan harta kekayaanmu, akan tetapi Ia memandang kepada hatimu dan perbuatanmu. Riwayat Muslim dari Abu Hurairah Hadis ini mengandung isyarat bahwa seorang hamba Allah jangan memastikan kebaikan atau keburukan seseorang semata-mata karena melihat kepada amal perbuatannya saja, sebab ada kemungkinan seseorang tampak mengerjakan amal kebajikan, padahal Allah melihat di dalam hatinya ada sifat yang tercela. Sebaliknya pula mungkin ada orang yang kelihatan melakukan suatu yang tampak buruk, akan tetapi Allah melihat dalam hatinya ada rasa penyesalan yang besar yang mendorongnya bertobat dari dosanya. Maka amal perbuatan yang tampak di luar itu, hanya merupakan tanda-tanda saja yang menimbulkan sangkaan yang kuat, tetapi belum sampai ke tingkat meyakinkan. Allah melarang kaum Mukminin memanggil orang dengan panggilan-panggilan yang buruk setelah mereka beriman. Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu 'Abbas dalam menafsirkan ayat ini, menerangkan bahwa ada seorang laki-laki yang pernah di masa mudanya mengerjakan suatu perbuatan yang buruk, lalu ia bertobat dari dosanya, maka Allah melarang siapa saja yang menyebut-nyebut lagi keburukannya di masa yang lalu, karena hal itu dapat membangkitkan perasaan yang tidak baik. Itu sebabnya Allah melarang memanggil dengan panggilan dan gelar yang buruk. Adapun panggilan yang mengandung penghormatan tidak dilarang, seperti sebutan kepada Abu Bakar dengan as-shiddiq, kepada 'Umar dengan al-Faruq, kepada 'Utsman dengan sebutan dzu an-Nurain, kepada 'Ali dengan Abu Turab, dan kepada Khalid bin al-Walid dengan sebutan Saifullah pedang Allah. Panggilan yang buruk dilarang untuk diucapkan setelah orangnya beriman karena gelar-gelar untuk itu mengingatkan kepada kedurhakaan yang sudah lewat, dan sudah tidak pantas lagi dilontarkan. Barang siapa tidak bertobat, bahkan terus pula memanggil-manggil dengan gelar-gelar yang buruk itu, maka mereka dicap oleh Allah sebagai orang-orang yang zalim terhadap diri sendiri dan pasti akan menerima konsekuensinya berupa azab dari Allah pada hari al-JalalainJalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi Hai orang-orang yang beriman, janganlah berolok-olokan dan seterusnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi. As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina suatu kaum yakni sebagian di antara kalian kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan di sisi Allah dan jangan pula wanita-wanita di antara kalian mengolok-olokkan wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela; makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir. Seburuk-buruk nama panggilan yang telah disebutkan di atas, yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan yang buruk ialah nama yang buruk sesudah iman lafal Al-Fusuuq merupakan Badal dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang dan barang siapa yang tidak bertobat dari perbuatan tersebut maka mereka itulah orang-orang yang lalim. Tafsir Ibnu KatsirIsmail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Allah Swt. melarang menghina orang lain, yakni meremehkan dan mengolok-olok mereka. Seperti yang disebutkan juga dalam hadis sahih dari Rasulullah Saw. yang telah bersabdaTakabur itu ialah menentang perkara hak dan meremehkan orang lain; menurut riwayat yang lain, dan menghina orang yang dimaksud ialah menghina dan meremehkan mereka. Hal ini diharamkan karena barangkali orang yang diremehkan lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dan lebih disukai oleh-Nya daripada orang yang meremehkannya. Karena itulah disebutkan oleh firman-NyaHai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olokkan dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik daripada wanita yang mengolok-olokkan. Al-Hujurat 11Secara nas larangan ditujukan kepada kaum laki-laki, lalu diiringi dengan larangan yang ditujukan kepada kaum wanita. Firman Allah Swt.dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Al-Hujurat 11Makna yang dimaksud ialah janganlah kamu mencela orang lain. Pengumpat dan pencela dari kalangan kaum lelaki adalah orang-orang yang tercela lagi dilaknat, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-NyaKecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Al-Humazah 1Al-hamz adalah ungkapan celaan melalui perbuatan, sedangkan al-lamz adalah ungkapan celaan dengan lisan. Seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nyayang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah Al-Qalam 11Yakni meremehkan orang lain dan mencela mereka berbuat melampaui batas terhadap mereka, dan berjalan ke sana kemari menghambur fitnah mengadu domba, yaitu mencela dengan lisan. Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Al-Hujurat 11Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-NyaDan janganlah kamu membunuh dirimu. An-Nisa 29Yakni janganlah sebagian dari kamu membunuh sebagian yang lain. Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Al-Hujurat 11 Artinya, janganlah sebagian dari kamu mencela sebagian yang lainnya. Firman Allah Swt.dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Al-Hujurat 11Yakni janganlah kamu memanggil orang lain dengan gelar yang buruk yang tidak enak didengar oleh yang bersangkutan. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Jubairah ibnu Ad-Dahhak yang mengatakan bahwa berkenaan dengan kami Bani Salamah ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Al-Hujurat 11 Ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah, tiada seorang pun dari kami melainkan mempunyai dua nama atau tiga nama. Tersebutlah pula apabila beliau memanggil seseorang dari mereka dengan salah satu namanya, mereka mengatakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia tidak menyukai nama panggilan itu." Maka turunlah firman-Nya dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Al-Hujurat 11Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini dari Musa ibnu Ismail, dari Wahb, dari Daud dengan sanad yang sama. Firman Allah Swt.Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan yang buruk sesudah iman. Al-Hujurat 11Seburuk-buruk sifat dan nama ialah yang mengandung kefasikan yaitu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seperti vang biasa dilakukan di zaman Jahiliah bila saling memanggil di antara sesamanya Kemudian sesudah kalian masuk Islam dan berakal, lalu kalian kembali kepada tradisi Jahiliah barang siapa yang tidak bertobat. Al-Hujurat 11 Yakni dari kebiasaan mereka itulah orang-orang yang zalim. Al-Hujurat 11Tafsir Quraish ShihabMuhammad Quraish Shihab Wahai orang-orang yang beriman, janganlah laki-laki di antara kalian mengolok-olok laki-laki yang lain. Sebab, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik di sisi Allah daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula wanita-wanita Mukmin mengolok-olok wanita-wanita Mukmin yang lain. Karena, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik di sisi Allah dari mereka yang mengolok-olok. Janganlah kalian saling mencela yang lain, dan jangan pula seseorang memanggil saudaranya dengan panggilan yang tidak disukainya. Seburuk-buruk panggilan bagi orang Mukmin adalah apabila mereka dipanggil dengan kata-kata fasik setelah mereka beriman. Barangsiapa tidak bertobat dari hal-hal yang dilarang itu, maka mereka adalah orang-orang yang menzalimi dirinya sendiri dan orang lain. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ الحجرٰت ١٢Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka buruk kepada manusia yang tidak disertai bukti atau tanda-tanda, sesungguhnya sebagian prasangka, yakni prasangka yang tidak disertai bukti atau tanda-tanda itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain yang sengaja ditutup-tutupi untuk mencemoohnya dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing, yakni membicarakan aib, sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Karena itu hindarilah pergunjingan karena itu sama dengan memakan daging saudara yang telah mati. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat kepada orang yang bertobat, Maha Penyayang kepada orang yang taat.Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa artinya, menjerumuskan kepada dosa, jenis prasangka itu cukup banyak, antara lain ialah berburuk sangka kepada orang mukmin yang selalu berbuat baik. Orang-orang mukmin yang selalu berbuat baik itu cukup banyak, berbeda keadaannya dengan orang-orang fasik dari kalangan kaum muslimin, maka tiada dosa bila kita berburuk sangka terhadapnya menyangkut masalah keburukan yang tampak dari mereka dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain lafal Tajassasuu pada asalnya adalah Tatajassasuu, lalu salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah Tajassasuu, artinya janganlah kalian mencari-cari aurat dan keaiban mereka dengan cara menyelidikinya dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain artinya, janganlah kamu mempergunjingkan dia dengan sesuatu yang tidak diakuinya, sekalipun hal itu benar ada padanya. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? lafal Maytan dapat pula dibaca Mayyitan; maksudnya tentu saja hal ini tidak layak kalian lakukan. Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya maksudnya, mempergunjingkan orang semasa hidupnya sama saja artinya dengan memakan dagingnya sesudah ia mati. Kalian jelas tidak akan menyukainya, oleh karena itu janganlah kalian melakukan hal ini. Dan bertakwalah kepada Allah yakni takutlah akan azab-Nya bila kalian hendak mempergunjingkan orang lain, maka dari itu bertobatlah kalian dari perbuatan ini sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat yakni selalu menerima tobat orang-orang yang bertobat lagi Maha Penyayang kepada mereka yang Swt. melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari banyak berprasangka buruk, yakni mencurigai keluarga dan kaum kerabat serta orang lain dengan tuduhan yang buruk yang bukan pada tempatnya. Karena sesungguhnya sebagian dari hal tersebut merupakan hal yang murni dosa, untuk itu hendaklah hal tersebut dijauhi secara keseluruhan sebagai tindakan diriwayatkan kepada kami dari Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab bahwa ia pernah berkata, "Jangan sekali-kali kamu mempunyai prasangka terhadap suatu kalimat yang keluar dari lisan saudaramu yang mukmin melainkan hanya kebaikan belaka, sedangkan kamu masih mempunyai jalan untuk memahaminya dengan pemahaman yang baik."Abdullah ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Qasim ibnu Abu Damrah Nasr ibnu Muhammad ibnu Sulaiman Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Qais An-Nadri, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa ia pernah melihat Nabi Saw. sedang tawaf di ka'bah seraya mengucapkan Alangkah harumnya namamu, dan alangkah harumnya baumu, dan alangkah besarnya namamu, dan alangkah besarnya kesucianmu. Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya kesucian orang mukmin itu lebih besar di sisi Allah Swt. daripada kesucianmu; harta dan darahnya jangan sampai dituduh yang bukan-bukan melainkan hanya baik Majah meriwayatkannya melalui jalur ini secara munfarid tunggal.Malik telah meriwayatkan dari Abuz Zanad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda Janganlah kamu mempunyai prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka yang buruk itu adalah berita yang paling dusta; janganlah kamu saling memata-matai, janganlah kamu saling mencari-cari kesalahan, janganlah kamu saling menjatuhkan, janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling berbuat makar, tetapi jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang Bukhari meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Yusuf, sedangkan Imam Muslim meriwayatkannya dari Yahya ibnu Yahya. Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Al-Atabi, dari Malik dengan sanad yang ibnu Uyaynah telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda Janganlah kalian saling memutuskan persaudaraan, janganlah kamu saling menjatuhkan, janganlah kamu saling membenci, dan janganlah kamu saling mendengki, tetapi jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak dihalalkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga Muslim dan Imam Turmuzi meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya masing-masing, dan Imam Turmuzi menilainya sahih, melalui riwayat Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Qurmuti Al-Adawi, telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Abdul Wahhab Al-Madani, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Qais Al-Ansari, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Abur Rijal, dari ayahnya, dari kakeknya Harisah ibnun Nu'man yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda Ada tiga perkara yang ketiganya memastikan bagi umatku, yaitu tiyarah, dengki, dan buruk prasangka. Seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara melenyapkannya bagi seseorang yang ketiga-tiganya ada pada dirinya?" Rasulullah Saw. menjawab Apabila kamu dengki, mohonlah ampunan kepada Allah; dan apabila kamu buruk prasangka, maka janganlah kamu nyatakan; dan apabila kamu mempunyai tiyarah pertanda kemalangan, maka teruskanlah Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Zaid yang menceritakan bahwa sahabat Ibnu Mas'ud pernah menerima seorang lelaki yang ditangkap, lalu dihadapkan kepadanya, kemudian dikatakan kepada Ibnu Mas'ud, "Ini adalah si Fulan yang jenggotnya meneteskan khamr yakni dia baru saja minum khamr." Maka Ibnu Mas'ud menjawab, "Sesungguhnya kami dilarang memata-matai orang lain. Tetapi jika ada bukti yang kelihatan oleh kita, maka kita harus menghukumnya." Ibnu Abu Hatim menjelaskan nama lelaki tersebut di dalam riwayatnya, dia adalah Al-Walid ibnu Uqbah ibnu Abu Mu' Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Lais, dari Ibrahim ibnu Nasyit Al-Khaulani, dari Ka'b ibnu Alqamah, dari Abul Haisam, dari Dajin juru tulis Uqbah yang menceritakan bahwa ia pernah berkata kepada Uqbah, "Sesungguhnya kami mempunyai banyak tetangga yang gemar minum khamr, dan aku akan memanggil polisi untuk menangkap mereka." Uqbah menjawab, "Jangan kamu lakukan itu, tetapi nasihatilah mereka dan ancamlah mereka." Dajin melakukan saran Uqbah, tetapi mereka tidak mau juga berhenti dari minumnya. Akhirnya Dajin datang kepada Uqbah dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya telah kularang mereka mengulangi perbuatannya, tetapi mereka tidak juga mau berhenti. Dan sekarang aku akan memanggil polisi susila untuk menangkap mereka." Maka Uqbah berkata kepada Dajin, "Janganlah kamu lakukan hal itu. Celakalah kamu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda'Barang siapa yang menutupi aurat orang mukmin, maka seakan-akan pahalanya sama dengan orang yang menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya'.”Imam Abu Daud dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Al-Lais ibnu Sa'd dengan sanad dan lafaz yang semisal. Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Rasyid ibnu Sa'd, dari Mu'awiyah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. bersabdaSesungguhnya bila kamu menelusuri aurat orang lain, berarti kamu rusak mereka atau kamu hampir buat mereka menjadi Darda mengatakan suatu kalimat yang ia dengar dari Mu'awiyah dari Rasulullah Saw.; semoga Allah Swt. menjadikannya bermanfaat. Imam Abu Daud meriwayatkannya secara munfarid, melalui hadis As-Sauri dengan sanad yang Daud mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Amr Al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy telah menceritakan kepada kami Damdam ibnu Zur'ah, dan ibnu Ubaid, dari Jubair ibnu Nafir, Kasir ibnu Murrah, Amr ibnul Aswad, Al-Miqdam ibnu Ma'di Kariba dan Abu Umamah dan Nabi Saw. yang telah bersabda Sesungguhnya seorang amir itu apabila mencari-cari kesalahan rakyatnya, berarti dia membuat mereka Allah Swt.dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Al-Hujurat 12Yakni sebagian dari kalian terhadap sebagian yang lain. Lafaz tajassus pada galibnya umumnya menunjukkan pengertian negatif buruk, karena itulah mata-mata dalam bahasa Arabnya disebut jaras. Adapun mengenai lafaz tahassus pada umumnya ditujukan terhadap kebaikan, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Swt. yang menceritakan perihal Nabi Ya'qub yang telah mengatakan kepada putra-putranyaHai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Yusuf 87Tetapi adakalanya lafaz ini digunakan untuk pengertian negatif, seperti pengertian yang terdapat di dalam hadis sahih, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabdaJanganlah kalian saling memata-matai dan janganlah pula saling mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah pula saling membenci dan janganlah pula saling menjatuhkan, tetapi jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang mengatakan bahwa tajassus ialah mencari-cari kesalahan pihak lain, dan tahassus ialah mencari-cari berita suatu kaum, sedangkan yang bersangkutan tidak mau beritanya itu terdengar atau disadap. Tadabur artinya menjerumuskan atau menjatuhkan atau membuat makar. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Firman Allah Swt.dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Al-Hujurat 12Ini larangan mempergunjingkan orang lain. Hal ini ditafsirkan oleh Nabi Saw. melalui sabdanya yang mengatakan bahwa gibah ialahKamu gunjingkan saudaramu dengan hal-hal yang tidak disukainya. Lalu ditanyakan, "Bagaimanakah jika apa yang dipergunjingkan itu ada padanya?" Rasulullah Saw. menjawab Jika apa yang kamu pergunjingkan itu ada padanya, berarti kamu telah mengumpatnya; dan jika apa yang kamu pergunjingkan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah Turmuzi meriwayatkannya dari Qutaibah, dari Ad-Darawardi dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini sahih. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Bandar, dari Gundar, dari Syu'bah, dari Al-Ala. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Umar Masruq, Qatadah, Abu Ishaq, dan Mu'awiyah ibnu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Sufyan, bahwa telah menceritakan kepadaku Ali ibnul Aqmar, dari Abu Huzaifah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah mengatakan kepada Nabi Saw. perihal keburukan Safiyyah. Selain Musaddad menyebutkan bahwa Safiyyah itu wanita yang pendek. Maka Nabi Saw. bersabda Sesungguhnya kamu telah mengucapkan suatu kalimat yang berdosa; seandainya kalimat itu dilemparkan ke dalam laut, tentulah dia dapat mencemarinya. Siti Aisyah menyebutkan bahwa lalu ia menceritakan perihal seseorang kepada Nabi Saw. Maka Nabi Saw. bersabda Aku Tidak Suka bila aku menceritakan perihal seseorang, lalu aku mendapatkan anu dan anu yakni dosa.Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Yahya Al-Qattan, Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Waki'. Ketiga-tiganya dari Sufyan As-Sauri, dari Ali ibnul Aqmar, dari Abu Huzaifah Salamah ibnu Suhaib Al-Arhabi, dari Aisyah dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abusy Syawarib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziad, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Asy-Syaibani, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnul Mukhariq, bahwa pernah seorang wanita menemui Siti Aisyah di dalam rumahnya. Ketika wanita itu berdiri dan bangkit hendak keluar, Siti Aisyah berisyarat kepada Nabi Saw. dengan tangannya yang menunjukkan bahwa wanita itu pendek. Maka Nabi Saw. bersabda Engkau telah atau mengumpat adalah perbuatan yang haram menurut kesepakatan semua ulama, tiada pengecualian kecuali hanya terhadap hal-hal yang telah diyakini kemaslahatannya, seperti dalam hal jarh dan ta'dil yakni istilah ilmu mustalahul hadis yang menerangkan tentang predikat para perawi seorang demi seorang serta dalam masalah nasihat. Seperti sabda Nabi Saw. ketika ada seorang lelaki pendurhaka meminta izin masuk menemuinya. Maka bersabdalah beliauIzinkanlah dia masuk, dia adalah seburuk-buruk saudara satu seperti sabda Nabi Saw. kepada Fatimah binti Qais yang dilamar oleh Mu'awiyah dan Abdul Jahm. Maka Nabi Saw. bersabda kepadanya memberinya nasihatAdapun Mu'awiyah, maka dia adalah seorang yang miskin, sedangkan Abul Jahm adalah seorang yang tidak pernah menurunkan tongkatnya dari pundaknya yakni suka memukul istrinya.Hal-hal lainnya yang bertujuan semisal diperbolehkan pula. Sedangkan yang selain dari itu tetap diharamkan dengan sangat, dan ada peringatan yang keras terhadap pelakunya. Karena itulah maka Allah Swt. menyerupakan pelakunya sebagaimana memakan daging manusia yang telah mati. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. melalui firman-NyaSukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Al-Hujurat 12Yakni sebagaimana kamu tidak menyukai hal tersebut secara naluri, maka bencilah perbuatan tersebut demi perintah syara', karena sesungguhnya hukuman yang sebenarnya jauh lebih keras daripada yang digambarkan. Ungkapan seperti ayat di atas hanyalah untuk menimbulkan rasa antipati terhadap perbuatan tersebut dan sebagai peringatan agar tidak dikerjakan. Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. sehubungan dengan seseorang yang mencabut kembali hibahnyaseperti anjing yang muntah, lalu memakan kembali sebelum itu beliau Saw. telah bersabda"لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ"Tiada bagi kami perumpamaan yang disebutkan di dalam kitab-kitab sahih, hasan, dan musnad melalui berbagai jalur, bahwa Rasulullah Saw. dalam haji wada'nya mengatakan dalam khitbah-nyaSesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana kesucian hari, bulan, dan negeri kalian Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Wasil ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Asbath ibnu Muhammad, dari Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda Diharamkan atas orang muslim harta, kehormatan, dan darah orang muslim lainnya. Cukuplah keburukan bagi seseorang bila ia menghina saudara Turmuzi telah meriwayatkan pula hadis ini dari Ubaid ibnu Asbat ibnu Muhammad, dari ayahnya dengan sanad yang sama; dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib. Telah menceritakan pula kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Iyasy, dari Al-A'masy, dari Sa'id ibnu Abdullah ibnu Khadij, dari Abu Burdah Al-Balawi yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda Hai orang-orang yang iman dengan lisannya, tetapi iman masih belum meresap ke dalam kalbunya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim, dan jangan pula kalian menelusuri aurat mereka. Karena barang siapa yang menelusuri aurat mereka, maka Allah akan balas menelusuri auratnya. Dan barang siapa yang ditelusuri auratnya oleh Allah, maka Allah akan mempermalukannya di dalam Abu Daud meriwayatkan hadis ini secara tunggal. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula melalui Al-Barra ibnu Azib; untuk itu Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan di dalam kitab musnadnya telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Dinar, telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnu Salam, dari Hamzah ibnu Habib Az-Zayyat, dari Abu Ishaq As-Subai'i, dari Al-Barra ibnu Azib yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. berkhotbah kepada kami sehingga suara beliau terdengar oleh kaum wanita yang ada di dalam kemahnya atau di dalam rumahnya masing-masing. Beliau Saw. bersabda Hai orang-orang yang beriman dengan lisannya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan jangan pula menelusuri aurat mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang menelusuri aurat saudaranya, maka Allah akan membalas menelusuri auratnya. Dan barang siapa yang auratnya ditelusuri oleh Allah, maka Dia akan mempermalukannya di dalam lain dari Ibnu Umar Abu Bakar alias Ahmad ibnu Ibrahim Al-Ismaili mengatakan telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Najiyah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Aksam, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Musa Asy-Syaibani, dari Al-Husain ibnu Waqid, dari Aufa ibnu Dalham, dari Nafi', dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda Hai orang-orang yang beriman dengan lisannya, tetapi iman masih belum meresap ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim, dan jangan pula menelusuri aurat mereka mencari-cari kesalahan mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang gemar menelusuri aurat orang-orang muslim, maka Allah akan menelusuri auratnya. Dan barang siapa yang auratnya telah ditelusuri oleh Allah, maka Allah akan mempermalukannya, sekalipun ia berada di dalam tandunya. Dan pada suatu hari Ibnu Umar memandang ke arah Ka'bah, lalu berkata, "Alangkah besarnya engkau dan alangkah besarnya kehormatanmu, tetapi sesungguhnya orang mukmin itu lebih besar kehormatannya daripada engkau di sisi Allah."Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syiraih, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, dari Ibnu Sauban,dari ayahnya, dari Mak-hul, dari Waqqas ibnu Rabi'ah, dari Al-Miswar yang menceritakan kepadanya bahwa Nabi Saw. pernah bersabda Barang siapa yang memakan daging seorang muslim yakni menggunjingnya sekali makan gunjing, maka sesungguhnya Allah akan memberinya makanan yang semisal di dalam neraka Jahanam. Dan barang siapa yang memakaikan suatu pakaian terhadap seorang muslim yakni menghalalkan kehormatannya, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian yang semisal di dalam neraka Jahanam. Dan barang siapa yang berdiri karena ria dan pamer terhadap seseorang, maka Allah akan memberdirikannya di tempat pamer dan ria kelak di hari Abu Daud meriwayatkan hadis ini secara munfarid. Telah menceritakan pula kepada kami Ibnu Musaffa, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah dan Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepadaku Rasyid ibnu Sa'd dan Abdur Rahman ibnu Jubair, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda Mengapa mereka memakan daging orang lain menggunjing orang lain dan menjatuhkan kehormatan orang-orang lain?Imam Abu Daud meriwayatkannya secara munfarid. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abul Mugirah Abdul Quddus ibnul Hajjaj Asy-Syami dengan sanad yang Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdah, telah menceritakan kepada kami Abu Abdus Samad ibnu Abdul Aziz Al-Ummi, telah menceritakan kepada kami Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan bahwa kami pernah berkata, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami apa yang telah engkau lihat dalam perjalanan Isra malammu." Maka di antara jawaban beliau Saw. menyebutkan bahwa kemudian aku dibawa menuju ke tempat sejumlah makhluk Allah yang banyak terdiri dari kaum laki-laki dan wanita. Mereka diserahkan kepada para malaikat yang berupa kaum laki-laki yang dengan sengaja mencomot daging lambung seseorang dari mereka sekali comot sebesar terompah, kemudian mereka jejalkan daging itu ke mulut seseorang lainnya dari mereka. Lalu dikatakan kepadanya, "Makanlah ini sebagaimana dahulu kamu makan," sedangkan ia menjumpai daging itu adalah bangkai. Jibril mengatakan, "Hai Muhammad, tentu saja itu menjijikannya, tetapi dipaksakan kepadanya untuk memakannya." Aku bertanya, "Hai Jabrail, siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka menggunjing dan mencela serta mengadu domba orang-orang lain." Lalu dikatakan, "Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." Dan orang tersebut tidak suka memakannya tetapi dipaksakan kepadanya. Demikianlah hadis secara ringkasnya, sedangkan secara panjang lebarnya telah kami kemukakan pada permulaan tafsir surat diriwayatkan oleh Al-Hafiz Al-Baihaqi melalui, hadis Yazid ibnu Harun menceritakan kepada kami Sulaiman At-Taimi yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki bercerita di Majelis Abu usman An-Nahdi, dari Ubaid maula Rasulullah Saw. Bahwa di masa Rasulullah Saw. pernah ada dua orang wanita puasa, lalu seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw. melaporkan, "Wahai Rasulullah, di sini ada dua orang wanita yang puasa, tetapi keduanya hampir saja mati karena kehausan," perawi mengatakan bahwa ia merasa yakin penyebabnya adalah karena teriknya matahari di tengah hari. Rasulullah Saw. berpaling darinya atau diam tidak menjawab. Lelaki itu kembali berkata, "Wahai Nabi Allah, demi Allah, sesungguhnya keduanya sekarat atau hampir saja sekarat." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Panggillah keduanya," lalu keduanya datang. Maka didatangkanlah sebuah wadah atau mangkuk, dan Nabi Saw. berkata kepada salah seorang wanita itu, "Muntahlah!" Wanita itu mengeluarkan muntahan darah dan nanah sehingga memenuhi separo wadah itu. Kemudian Nabi Saw. berkata kepada wanita lainnya, "Muntahlah!" Lalu wanita itu memuntahkan nanah, darah, muntahan darah kental, dan lainnya hingga wadah itu penuh. Kemudian Nabi Saw. bersabda Sesungguhnya kedua wanita ini puasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah bagi keduanya, tetapi keduanya tidak puasa dari apa yang diharamkan oleh Allah atas keduanya; salah seorang dari keduanya mendatangi yang lain, lalu keduanya memakan daging orang lain menggunjingnya.Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Yazid ibnu Harun dan Ibnu Abu Addi, keduanya dari Salman ibnu Sauban At-Taimi dengan sanad yang semisal dan lafaz yang sama atau semisal. Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula melalui hadis Musaddad, dari Yahya Al-Qattan, dari Usman ibnu Giyas, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki yang menurutku dia berada di majelis Abu Usman, dari Sa'd maula Rasulullah Saw., bahwa mereka diperintahkan untuk puasa, lalu di tengah hari datanglah seorang lelaki dan berkata, "Wahai Rasulullah, Fulanah dan Fulanah telah payah sekali," tetapi Nabi Saw. berpaling darinya; hal ini berlangsung sebanyak dua atau tiga kali. Pada akhirnya Rasulullah Saw. bersabda, "Panggilah keduanya." Maka Nabi Saw. datang membawa panci atau wadah, dan berkata kepada salah seorang dari kedua wanita itu, "Muntahlah." Wanita itu memuntahkan daging, darah kental, dan muntahan. Lalu Nabi Saw. berkata kepada wanita yang lainnya, "Muntahlah." Maka wanita itu memuntahkan hal yang sama. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda Sesungguhnya kedua wanita ini puasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah bagi keduanya, tetapi keduanya tidak puasa dari apa yang diharamkan oleh Allah bagi keduanya. Salah seorang dari keduanya mendatangi yang lain, lalu keduanya terus-menerus memakan daging orang lain menggunjingnya hingga perut keduanya penuh dengan Baihaqi mengatakan bahwa demikianlah bunyi teks yang diriwayatkan dari Sa'd. Tetapi yang pertama yaitu Ubaid adalah yang paling Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnud Dahhak ibnu Makhlad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abuz Zubair, dari salah seorang anak Abu Hurairah, bahwa Ma'iz datang kepada Rasulullah Saw., lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina." Rasulullah Saw. berpaling darinya hingga Ma'iz mengulangi ucapannya sebanyak empat kali, dan pada yang kelima kalinya Rasulullah Saw. balik bertanya, "Kamu benar telah zina?" Ma'iz menjawab, "Ya." Rasulullah Saw. bertanya, "Tahukah kamu apakah zina itu?" Ma'iz menjawab, "Ya, aku lakukan terhadapnya perbuatan yang haram, sebagaimana layaknya seorang suami mendatangi istrinya yang halal." Rasulullah Saw. bertanya, "Apakah yang engkau maksudkan dengan pengakuanmu ini?" Ma'iz menjawab, "Aku bermaksud agar engkau menyucikan diriku dari dosa zina." Maka Rasulullah Saw. bertanya, "Apakah engkau memasukkan itumu ke dalam itunya dia, sebagaimana batang celak dimasukkan ke dalam wadah celak dan sebagaimana timba dimasukkan ke dalam sumur?" Ma'iz menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Maka Rasulullah Saw. memerintahkan agar Ma'iz dihukum rajam, lalu Ma'iz dirajam. Kemudian Nabi Saw. mendengar dua orang lelaki berkata. Salah seorang darinya berkata kepada yang lain temannya, "Tidakkah engkau saksikan orang yang telah ditutupi oleh Allah, tetapi dia tidak membiarkan dirinya hingga harus dirajam seperti anjing dirajam?" Kemudian Nabi Saw. berjalan hingga melalui bangkai keledai, lalu beliau Saw. bersabda, "Dimanakah si Fulan dan si Fulan? Suruhlah keduanya turun dan memakan bangkai keledai ini." Keduanya menjawab, "Semoga Allah mengampunimu, ya Rasulullah, apakah bangkai ini dapat dimakan?" Nabi Saw. menjawab Apa yang kamu berdua katakan tentang saudaramu tadi jauh lebih menjijikkan daripada bangkai keledai ini rasanya. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan­Nya, sesungguhnya dia sekarang benar-benar berada di sungai-sungai surga menyelam di hadis sahihImam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepadaku Wasil maula Ibnu Uyaynah, telah menceritakan kepadaku Khalid ibnu Urfutah, dari Talhah ibnu Nafi', dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwa ketika kami bersama Nabi Saw., lalu terciumlah oleh kami bau bangkai yang sangat busuk. Maka Rasulullah Saw. bersabda Tahukah kalian, bau apakah ini? Ini adalah bau orang-orang yang suka menggunjing orang lain. Jalur lain. Abdu ibnu Humaid mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Asy'as, telah menceritakan kepada kami Al-Fudail ibnu Iyad, dari Sulaiman ibnu Abu Sufyan alias Talhah ibnu Nafi', dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ketika kami bersama Nabi Saw. dalam suatu perjalanan, tiba-tiba terciumlah bau yang sangat busuk. Maka Nabi Saw. bersabda Sesungguhnya sejumlah orang-orang munafik telah menggunjing seseorang dari kaum muslim, maka hal tersebutlah yang menimbulkan bau yang sangat busuk ini. Dan barangkali beliau Saw. bersabda Karena itulah maka tercium bau yang sangat busuk ini. As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman Allah Swt. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Al-Hujurat 12 Ia merasa yakin bahwa Salman ketika berjalan bersama dua orang sahabat Nabi Saw. dalam suatu perjalanan sebagai pelayan keduanya dan meringankan beban keduanya dengan imbalan mendapat makan dari keduanya. Pada suatu hari ketika semua orang telah berangkat, sedangkan Salman tidak ikut berangkat bersama mereka melainkan tertidur, lalu kedua temannya itu menggunjingnya. Kemudian keduanya mencari Salman, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya kedua teman Salman membuat kemah dan keduanya mengatakan seraya menggerutu, "Tiada yang dikehendaki oleh Salman atau budak ini selain dari yang enaknya saja, yaitu datang tinggal makan dan kemah sudah dipasang." Ketika Salman datang, keduanya mengutus Salman kepada Rasulullah Saw. untuk meminta lauk pauk. Maka Salman pun berangkat hingga datang kepada Rasulullah Saw. seraya membawa wadah lauk pauk. Lalu Salman berkata, "Wahai Rasulullah, teman-temanku telah menyuruhku untuk meminta lauk pauk kepada engkau, jika engkau mempunyainya." Rasulullah Saw. bersabda Apakah yang dilakukan oleh teman-temanmu dengan lauk pauk, bukankah mereka telah memperoleh lauk pauk? Maka Salman kembali kepada kedua temannya dan menceritakan kepada mereka apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah Saw. Kemudian keduanya berangkat hingga sampai ke tempat Rasulullah Saw., lalu berkata, "Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan hak, kami belum makan sejak pertama kali kami istirahat." Rasulullah Saw. bersabda Sesungguhnya kamu berdua telah mendapat lauk pauk dari Salman karena gunjinganmu terhadapnya. Lalu turunlah firman Allah Swt. Sukakah seseorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Al-Hujurat 12 Sesungguhnya Salman saat itu sedang Allah Swt.Dan bertakwalah kepada Allah. Al-Hujurat 12dengan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kalian dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya, maka merasalah diri kalian berada dalam pengawasan-Nya dan takutlah kalian Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Al-Hujurat 12Yakni Maha Penerima tobat terhadap orang yang mau bertobat kepada-Nya, lagi Maha Penyayang kepada orang yang kembali ke jalan-Nya dan percaya ulama mengatakan bahwa cara bertobat dari menggunjing orang lain ialah hendaknya yang bersangkutan bertekad untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Akan tetapi, apakah disyaratkan menyesali perbuatannya yang telah lalu itu? Masalahnya masih diperselisihkan. Dan hendaknya pelakunya meminta maaf kepada orang yang lainnya mengatakan bahwa tidak disyaratkan meminta maaf dari orang yang digunjingnya, karena apabila dia memberitahu kepadanya apa yang telah ia lakukan terhadapnya, barangkali hatinya lebih sakit daripada seandainya tidak diberi tahu. Dan cara yang terbaik ialah hendaknya pelakunya membersihkan nama orang yang digunjingnya di tempat yang tadinya dia mencelanya dan berbalik memujinya. Dan hendaknya ia membela orang yang pernah digunj ingnya itu dengan segala kemampuan sebagai pelunasan dari apa yang dilakukan terhadapnya sebelum Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ayyub, dari Abdullah ibnu Sulaiman, bahwa Ismail ibnu Yahya Al-Mu'afiri pernah menceritakan kepadanya bahwa Sahl ibnu Mu'az ibnu Anas Al-Juhani telah menceritakan kepadanya dari ayahnya, dari Nabi Saw. yang telah bersabda Barang siapa yang membela seorang mukmin dari orang munafik yang menggunjingnya, maka Allah mengirimkan malaikat kepadanya untuk melindungi dagingnya kelak di hari kiamat dari api neraka Jahanam. Dan barang siapa yang menuduh seorang mukmin dengan tuduhan yang ia maksudkan mencacinya, maka Allah menahannya di jembatan neraka Jahanam hingga ia mencabut kembali apa yang dituduhkannya Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Al-Lais, telah menceritakan kepadakuVahya ibnu Sahm, dia pernah mendengar Ismail ibnu Basyir mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah dan Abu Talhah ibnu Sahl Al-Ansanrimengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda tidaklah seseorang menghina seorang muslim di suatu tempat yang menyebabkan kehormatannya dilecehkan dan harga dirinya direndahkan, melainkan Allah Swt. akan balas menghinanya di tempat-tempat yang ia sangat memerlukan pertolongan-Nya. Dan tidaklah seseorang membela seorang muslim di suatu tempat yang menyebabkan harga diri dan kehormatannya direndahkan, melainkan Allah akan menolongnya di tempat-tempat yang ia sangat memerlukan Abu Daud meriwayatkan hadis ini secara munfarid tunggalWahai orang-orang yang beriman, jauhilah prasangka buruk terhadap orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa yang harus dihukum. Janganlah kalian menyelidiki dan mencari-cari aib dan cela orang-orang Muslim, dan jangan pula kalian saling menggunjing yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian senang memakan bangkai saudaranya yang mati yang kalian sendiri sebenarnya merasa jijik? Maka bencilah perbuatan menggunjing, karena perbuatan menggunjing itu bagaikan memakan bangkai saudara sendiri. Peliharalah diri kalian dari azab Allah dengan menaati semua perintah dan menjauhi segala larangan. Sesungguhnya Allah Mahaagung dalam menerima pertobatan orang-orang yang mau bertobat, lagi Mahaluas kasih sayang-Nya terhadap alam semesta. يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞYaaa ayyuhal lazeena aamanuj taniboo kaseeram minaz zanni inna ba’daz zanniismunw wa laa tajassasoo wa la yaghtab ba’dukum ba’daa; a yuhibbu ahadukum any yaakula lahma akheehi maitan fakarih tumooh; wattaqul laa; innal laaha tawwaabur Raheem O you who have believed, avoid much [negative] assumption. Indeed, some assumption is sin. And do not spy or backbite each other. Would one of you like to eat the flesh of his brother when dead? You would detest it. And fear Allah; indeed, Allah is Accepting of repentance and Merciful. Yusuf AliO ye who believe! Avoid suspicion as much as possible for suspicion in some cases is a sin And spy not on each other behind their backs. Would any of you like to eat the flesh of his dead brother? Nay, ye would abhor it… But fear Allah For Allah is Oft-Returning, Most Merciful. Abul Ala MaududiBelievers, avoid being excessively suspicious, for some suspicion is a sin. Do not spy, nor backbite one another. Would any of you like to eat the flesh of his dead brother? You would surely detest it. Have fear of Allah. Surely Allah is much prone to accept repentance, is Most Compassionate. Muhsin KhanO you who believe! Avoid much suspicions, indeed some suspicions are sins. And spy not, neither backbite one another. Would one of you like to eat the flesh of his dead brother? You would hate it so hate backbiting. And fear Allah. Verily, Allah is the One Who accepts repentance, Most Merciful. PickthallO ye who believe! Shun much suspicion; for lo! some suspicion is a crime. And spy not, neither backbite one another. Would one of you love to eat the flesh of his dead brother? Ye abhor that so abhor the other! And keep your duty to Allah. Lo! Allah is Relenting, Merciful. Dr. GhaliO you who have believed, avoid much surmise; surely some surmise is a vice. And do not spy on each other, Literally some of you on some others nor backbite one another; would any of you love to eat the flesh of his brother dead? So you would hate it! And be pious to Allah; surely Allah is Superbly Relenting, Ever-Merciful. Abdel HaleemBelievers, avoid making too many assumptions- some assumptions are sinful- and do not spy on one another or speak ill of people behind their backs would any of you like to eat the flesh of your dead brother? No, you would hate it. So be mindful of God God is ever relenting, most merciful. Muhammad Junagarhiاے ایمان والو! بہت بدگمانیوں سے بچو یقین مانو کہ بعض بدگمانیاں گناه ہیں۔ اور بھید نہ ٹٹوﻻ کرو اور نہ تم میں سے کوئی کسی کی غیبت کرے۔ کیا تم میں سے کوئی بھی اپنے مرده بھائی کا گوشت کھانا پسند کرتا ہے؟ تم کو اس سے گھن آئے گی، اور اللہ سے ڈرتے رہو، بیشک اللہ توبہ قبول کرنے واﻻ مہربان ہے Ala-Maududi 4912 Believers, avoid being excessively suspicious, for some suspicion is a sin.[24] Do not spy,[25] nor backbite one another.[26] Would any of you like to eat the flesh of his dead brother?[27] You would surely detest it. Have fear of Allah. Surely Allah is much prone to accept repentance, is Most Compassionate. 24. What is forbidden is not conjecture as such but excessive conjecture and following every kind of conjecture, and the reason given is that some conjectures are sins. In order to understand this command, we should analyze and see what are the kinds of conjecture and what is the moral position of each. One kind of conjecture is that which is morally approved and laudable, and desirable and praiseworthy from religious point of view, a good conjecture in respect of Allah and His Messenger and the believers and those people with whom one comes in common contact daily and concerning whom there may be no rational ground for having an evil conjecture. The second kind of conjecture is that which one cannot do without in practical life, in a law court a judge has to consider the evidence placed before him and give his decision on the basis of the most probable conjecture, for he cannot have direct knowledge of the facts of the matter, and the opinion that is based on evidence is mostly based on the most probable conjecture and not on certainty. Likewise, in most cases when one or the other decision has to be taken, and the knowledge of the reality cannot possibly be attained, there is no way out for men but to form an opinion on the basis of a conjecture. The third kind of conjecture, which is although a suspicion, is permissible in nature, and it cannot be regarded as a sin. For instance, if there are clear signs and pointers in the character of a person or persons, or in his dealings and conduct, on the basis of which he may not deserve to enjoy one’s good conjecture, and there are rational grounds for having suspicions against him, the Shariah does not demand that one should behave like a simpleton and continue to have a good conjecture about him. The last limit of this lawful conjecture, however, is that one should conduct himself cautiously in order to ward off any possible mischief from him; it is not right to take an action against him only on the basis of a conjecture. The fourth kind of conjecture which is, in fact, a sin is that one should entertain a suspicion in respect of a person without any ground, or should start with suspicion in forming an opinion about others, or should entertain a suspicion about the people whose apparent conditions show that they are good and noble. Likewise, this also is a sin that when there is an equal chance of the evil and goodness in the word or deed of a person, one should regard it as only evil out of suspicion. For instance, if a gentleman while leaving a place of assembly picks up another one’s shoes, instead of his own, and we form the opinion that he has done so with the intention of stealing the shoes, whereas this could be possible because of oversight as well, there is no reason for adopting the evil opinion instead of the good opinion except the suspicion. This analysis makes it plain that conjecture by itself is not anything forbidden; rather in some cases and situations it is commendable, in some situations inevitable, in some permissible up to a certain extent and un-permissible beyond it, and in some cases absolutely unlawful. That is why it has not been enjoined that one should refrain from conjecture or suspicion altogether but what is enjoined is that one should refrain from much suspicion. Then, to make the intention of the command explicit, it has been said that some conjectures are sinful. From this warning it follows automatically that whenever a person is forming an opinion on the basis of conjecture, or is about to take an action, he should examine the case and see whether the conjecture he is entertaining is not a sin, whether the conjecture is really necessary, whether there are sound reasons for the conjecture, and whether the conduct one is adopting on the basis of the conjecture is permissible. Everyone who fears God will certainly take these precautions. To make his conjecture free and independent of every such care and consideration is the pastime of only those people who are fearless of God and thoughtless of the accountability of the Hereafter. 25. “Do not spy” Do not grope after the secrets of the people do not search for their defects and weaknesses do not pry into their conditions and affairs. Whether this is done because of suspicion, or for causing harm to somebody with an evil intention, or for satisfying one’s own curiosity, it is forbidden by the Shariah in every case. It does not behoove a believer that he should spy on the hidden affairs of other people, and should try to peep at them from behind curtains to find out their defects and their weaknesses. This also includes reading other people’s private letters, listening secretly to private conversation, peeping into the neighbor’s house, and trying to get information in different ways about the domestic life or private affairs of others. This is grave immorality which causes serious mischief in society. That is why the Prophet peace be upon him once said in an address about those who pry into other people’s affairs O people, who have professed belief verbally, but faith has not yet entered your hearts Do not pry into the affairs of the Muslims, for he who will pry into the affairs of the Muslims, Allah will pry into his affairs, and he whom Allah follows inquisitively, is disgraced by Him in his own house. Abu Daud. Muawiyah says that he himself heard the Prophet peace be upon him say If you start prying into the secret affairs of the people, you will pervert them, or at least drive them very near perversion. Abu Daud. In another he said When you happen to form an evil opinion about somebody, do not pry about it. Al-Jassas, Ahkam al-Quran. According to still another Hadith, the Prophet peace be upon him said The one who saw a secret affair of somebody and then concealed it is as though he saved a girl who had been buried alive. Al-Jassas. This prohibition of spying is not only applicable to the individuals but also to the Islamic government. The duty of forbidding the people to do evil that the Shariah has entrusted to the government does not require that it should establish a system of spying to inquire too curiously into the people’s secret evils and then punish them, but it should use force only against those evils which are manifested openly. As for the hidden evils spying is not the way to reform them but it is education, preaching and counseling, collective training of the people and trying to create a pure social environment. In this connection, an incident concerning Umar is very instructive. Once at night he heard the voice of a person who was singing in his house. He became curious and climbed the wall. There he saw wine as well as a woman present. He shouted at the man, saying O enemy of God, do you think you will disobey Allah, and Allah will not expose your secret? The man replied Do not make haste, O commander of the faithful if I have committed one sin, you have committed three sins Allah has forbidden spying, and you have spied; Allah has commanded that one should enter the houses by the doors, and you have entered it by climbing over the wall; Allah has commanded that one should avoid entering the other people’s houses without permission, and you have entered my house without my permission. Hearing this reply Umar confessed his error, and did not take any action against the man, but made him to promise that he would follow the right way in future. Abi Bakr Muhammad bin Jafar al- Kharaiti, Makarim al-Akhlaq. This shows that it is not only forbidden for the individuals but also for the Islamic government itself to pry into the secrets of the people and discover their sins and errors and then seize them for punishment. The same thing has been said in a Hadith in which the Prophet peace be upon him has said When the ruler starts searching for the causes of suspicions among the people he perverts them. Abu Daud. The only exception from this command are the special cases and situations in which spying is actually needed. For instance, if in the conduct of a person Ibn-Kathir 12. O you who believe! Avoid much suspicion; indeed some suspicion is sin. And spy not, neither backbite one another. Would one of you like to eat the flesh of his dead brother You would hate it. And have Taqwa of Allah. Verily, Allah is the One Who forgives and accepts repentance, Most Merciful. The Prohibition of Unfounded Suspicion Allah the Exalted forbids His faithful servants from being suspicious, which includes having doubts and suspicions about the conduct of one’s family, relatives and other people in general. Therefore, Muslims are to avoid suspicion without foundation. The Leader of the faithful `Umar bin Al-Khattab said, “Never think ill of the word that comes out of your believing brother’s mouth, as long as you can find a good excuse for it.” Malik recorded that Abu Hurayrah, may Allah be pleased with him, said that Allah’s Messenger said, إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا» Beware of suspicion, for suspicion is the worst of false tales; do not spy on one another; do not look for other’s faults; do not be jealous of one another; do not envy one another; do not hate one another; and do not desert shun one another. And O Allah’s servants! Be brothers! The Two Sahihs and Abu Dawud recorded this Hadith. Anas said that the Messenger of Allah said, لَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّام» Do not shun each other; do not ignore one another; do not hate one another, and do not envy one another, and be brothers, O servants of Allah. No Muslim is allowed to shun his brother for more than three days. Muslim and At-Tirmidhi collected this Hadith, who considered it Sahih. Allah said, ﴿وَلاَ تَجَسَّسُواْ﴾ And spy not, on each other. Tajassus, usually harbors ill intentions, and the spy is called a Jasus. As for Tahassus inquiring it is usually done for a good reason. Allah the Exalted and Most Honored said that Prophet Ya`qub said, ﴿يبَنِىَّ اذْهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلاَ تَايْـَسُواْ مِن رَّوْحِ اللَّهِ﴾ “O my sons! Go you and inquire Tahassasu about Yusuf and his brother, and never give up hope of Allah’s mercy.” 1287 Both of these terms, `Tajassus’ and `Tahassus’ could have evil connotations. In the Sahih it is recorded that the Messenger of Allah said, لَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا» Neither commit Tajassus nor Tahassus nor hate each other nor commit Tadabur. And be brothers, O servants of Allah. Al-Awza`i said, “Tajassus means, to search for something, while Tahassus means, listening to people when they are talking without their permission, or eavesdropping at their doors. Tadabur refers to shunning each other. ” Ibn Abi Hatim recorded this statement. Allah the Exalted said about backbiting; ﴿وَلاَ يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً﴾ neither backbite one another, thus prohibiting it, which was explained in a Hadith collected by Abu Dawud that Abu Hurayrah said, “It was asked, `O Allah’s Messenger! What is backbiting’ He said, ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَه» Mentioning about your brother in a manner that he dislikes. He was asked, `What if my brother was as I mentioned’ He said, إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّه» If he was as you mentioned, you will have committed backbiting. But if he was not as you say about him, you will have falsely accused him.” At-Tirmidhi collected this Hadith and said “Hasan Sahih.” Backbiting was sternly warned against, and this is why Allah the Exalted and Most Blessed compared it to eating the flesh of a dead human being, ﴿أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ﴾ Would one of you like to eat the flesh of his dead brother You would hate it. Just as you hate eating the flesh of a dead person, on account of your nature; so hate backbiting, on account of your religion. The latter carries a punishment that is worse than the former. This Ayah seeks to discourage people from backbiting and warns against it. The Prophet used these words to discourage taking back a gift that one gives to someone, كَالْكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَرْجِعُ فِي قَيْئِه» He is just like the dog that eats its vomit. after saying, لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْء» Ours is not an evil parable. Using various chains of narration, the Sahihs and Musnads record that the Prophet said during the Farewell Hajj إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هذَا، فِي شَهْرِكُمْ هذَا، فِي بَلَدِكُمْ هذَا» Verily, your blood, wealth and honor are as sacred among you as the sanctity of this day of yours, in this month of yours, in this town of yours. Abu Dawud recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said, كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ مَالُهُ وَعِرْضُهُ وَدَمُهُ، حَسْبُ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِم» All of the Muslim is sacred to the Muslim, his wealth, honor and his blood. It is evil enough for someone to belittle his Muslim brother. At-Tirmidhi collected this Hadith and said “Hasan Gharib.” Al-Hafiz Abu Ya`la recorded that a cousin of Abu Hurayrah said, “Ma`iz came to the Messenger of Allah and said, `O Allah’s Messenger! I have committed adultery,’ and the Messenger turned away from him until Ma`iz repeated his statement four times. The fifth time, the Prophet asked him, زَنَيْتَ؟» Have you committed adultery؟ Ma0 iz said, Yes. The Prophet asked, وَتَدْرِي مَا الزِّنَا؟» Do you know what adultery means Ma`iz said, `Yes. I have illegally done with her what a husband legally does with his wife.’ The Prophet said, مَا تُرِيدُ إِلَى هذَا الْقَوْلِ؟» What do you seek to accomplish by this statement Ma`iz said, `I intend that you purify me.’ The Prophet asked, أَدْخَلْتَ ذلِكَ مِنْكَ فِي ذلِكَ مِنْهَا كَمَا يَغِيبُ الْمِيلُ فِي الْمُكْحُلَةِ وَالرِّشَا فِي الْبِئْرِ؟» Have you gone into her just as the stick goes into the kohl container and the rope goes into the well Ma`iz said, `Yes, O Allah’s Messenger!’ The Prophet commanded that Ma`iz be stoned to death and his order was carried out. The Prophet heard two men saying to one another, `Have you not seen the man who had Allah cover his secret, but his heart could not let him rest until he was stoned to death, just as the dog is stoned’ The Prophet continued on and when he passed by the corpse of a donkey, he asked, أَيْنَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ؟ انْزِلَا فَكُلَا مِنْ جِيفَةِ هذَا الْحِمَار» Where are so-and-so Dismount and eat from this donkey. They said, `May Allah forgive you, O Allah’s Messenger! Would anyone eat this meat’ The Prophet said; فَمَا نِلْتُمَا مِنْ أَخِيكُمَا آنِفًا أَشَدُّ أَكْلًا مِنْهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ الْانَ لَفِي أَنْهَارِ الْجَنَّةِ يَنْغَمِسُ فِيهَا» The backbiting you committed against your brother is worse as a meal than this meal. By He in Whose Hand is my soul! He is now swimming in the rivers of Paradise.” This Hadith has an authentic chain of narration. Imam Ahmad recorded that Jabir bin `Abdullah said, “We were with the Messenger of Allah when a rotten odor was carried by the wind. The Messenger of Allah said, أَتَدْرُونَ مَا هذِهِ الرِّيحُ؟ هَذِهِ رِيحُ الَّذِينَ يَغْتَابُونَ النَّاس» Do you know what this odor is It is the odor of those who backbite people.” Accepted Repentance from Backbiting and Slander Allah the Exalted and Most Honored said, ﴿وَاتَّقُواْ اللَّهَ﴾ And have Taqwa of Allah, that is, regarding what He has commanded you and forbidden for you. Fear Him and beware of Him, ﴿إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ﴾ Verily, Allah is the One Who forgives and accepts repentance, Most Merciful. He forgives those who repent to Him, is merciful with those who go back to Him and trust in Him. The majority of scholars have stated that repentance for committing the sin of backbiting is that one refrains from backbiting intending not to repeat it again. There is a difference of opinion if whether feeling remorse is required in this case, and also if one should apologize to those who he has backbitten. Some scholars stated that it is not necessary for one to ask those whom he has backbitten to forgive him, because if they knew what was said about them, they could be hurt more than if they were not told about it. It is better, they said, that one should praise those whom he has backbitten in audiences in which he has committed the act. It is also better if one defends the injured party against any further backbiting, as much as one can, as recompense for his earlier backbiting.

arti al hujurat ayat 12 perkata